mom's corner

My Photo
Name:

saya ibu dua bocah lelaki Farros Naufal dan Fauzan Zuhdi,yang berebut mengajarkan saya tentang sabar dan ikhlas.saat ini kami tinggal di timur jakarta, cukup sejuk meski agak macet.Tapi kami selalu rindukan Yogya, kota dimana kami merasa menemukan "cinta".

Tuesday, June 20, 2006

Anak akan mengatasi sendiri masalah mengompol

"Mengompol bukanlah masalah kesehatan, psikologi atau problem emosi anak, " kata Dr. Mark Feldman dari Canadian Pediatric Society. " Mengompol akan menjadi sebuah problem jika orangtua dan anak membiarkan masalah itu dan tak berusaha mengatasinya." Feldman mengatakan, 10-15 % anak usia 5-6 tahun dan 6-8 % anak usia 7-8 tahun masih mengompol. Di usia yang disebut itu, kecenderungan mengompol anak masih dipandang alamiah.

Agar anak bisa mengatasi masalah mengompol mereka, orangtua dianjurkan untuk mengajari anak beberapa hal sebelum tidur. Pertama, memberi tahu pada anak untuk membiasakan bangun pada malam hari bila terasa ingin pipis. Untuk itu, kamar mandi harus bisa dengan mudah diakses anak.

Kedua, menjauhkan minuman dari jangkauan anak sebelum berangkat tidur. Ketiga, melatih anak agar buang air kecil sebelum tidur. Keempat, hentikan kebiasaan memakai popok dan menggantinya dengan celana panjang. Yang juga tak kalah penting adalah membiasakan meminta anak untuk membersihkan sendiri sprei yang basah karena mengompol. Yang terakhir, dan ini yang terpenting, adalah melatih anak untuk memiliki kepercayaan diri agar bisa mengatasi masalah mengompolnya.

Mengompol akan jadi masalah, kata Feldman, jika terjadi pada anak usia antara 8-10 tahun. Anak yang masih mengompol pada usia ini biasanya mengalami problem psikologi dan ketakpercayaan diri. "Penentraman hati, dorongan positif, dan tindakan untuk tidak meledek atau menghina, juga tak menerapkan hukuman, sangat diperlukan dari orangtua dan lingkungan sekitar anak," kata Feldman.

Sumber:berita kesehatan, majalah Anakku

Wednesday, June 07, 2006

Pentingnya Madu


Penelitian di Puslitbang Gizi Bogor menemukan, anak yang mengkonsumsi madu setiap hari lebih jarang terserang demam dan pilek, meningkat nafsu makannya, porsi dan bertambah frekuensi makannya, sehingga konsumsi energi dan protein juga meningkat. Ini berarti, daya tahan tubuh si kecil akan meningkat pula.

Manfaat kesehatan pemberian madu yang tampak dalam penelitian tersebut, antara lain, disebabkan madu merupakan makanan yang mengandung aneka zat gizi, seperti: karbohidrat, asam amino, vitamin (B,C dan E), mineral (zat besi, kalium, natrium dan lainnya); dan karena mengandung senyawa yang bersifat membunuh bakteri.

Secara medis, tidak dianjurkan untuk memberi madu pada bayi berusia kurang dari satu tahun, karena madu bisa mengandung spora bakteria Clostridium botulinum. Bakteri ini memproduksi zat beracun yang bisa menyebabkan penyakit botulisme pada bayi. Penyakit ini sangat serius, meski kejadiannya jarang.

Penyakit jenis keracunan makanan ini akan mengganggu sistem persarafan bayi dan bisa memberi akibat fatal. Pada bayi, bakteria baik di saluran cerna belum selengkap orang dewasa. Padahal, bakteria baik ini bisa mengatasi spora botulisme dan mencegahnya berkembang biak. Sehingga, secara otomatis tidak akan terjadi pembentukan zat beracun yang berbahaya tersebut. Berikut gejala botulisme :
  • terjadi kelumpuhan otot
  • bayi tidak bisa buang air besar (atau justru diare, mual, muntah)
  • lengan, kaki dan lehernya lunglai
  • menangis lemah (akibat kelemahan otot)
  • tidak kuat menyusu
  • lesu

sumber: Parenting indonesia, Baby's first food booklet by Nestle

info tentang bakteri clostridium botulinum,bisa dibaca di :

http://www.cdc.gov/NCIDOD/DBMD/diseaseinfo/botulism_g.htm

http://www.cfsan.fda.gov/~mow/chap2.html